"Film adalah realitas yang difiksikan, bukan sebaliknya,"
Salam kenal mas Ucup, nama saya Muhammad Ma'ruf Abidin, saya mengenal anda dari film The Conductor pas di putar di FFD Yogya 2008, waktu itu Tika, produser yang belakangan saya kenal ternyata istri anda menerima hadiah juara dokumenter FFD 2008. Saya juga sudah nonton Romeo and Juliet, dan The Jack, kebetulan saya beli CD-nya.
Kebetulan juga saya juga sudah membaca tulisan di
blog anda, wah ternyatas anda tidak saja komentator bola, tapi
menjadikan bola jadi tema film-film anda, tidak mengherankan jika anda
begitu inten mengarahkan jiwa seni anda dan menjadikan bola menjadi
ajang ekperimen, ya antara seni dan bola, begitulah.
Skenario yang baik adalah skenario yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik
Beberapa bulan silam saya kenal seorang asisten penulis skenario, Luvie. Beberapa karyanya telah tayang untuk sinetron di TV Swasta;cinderella, mimpi manis, ratapan anak tiri, bawang putih bawang merah, azizah, dll.. Setelah beberapa kali berdiskusi tentang film, akhirnya saya bisa menimba ilmu dari dia, inilah kutipan diskusi kita.
1. Sudah berapa lama ibu menekuni dunia penulisan skenario, gimana ceritanya?
sudah sekitar 3 tahun..awal mulanya saya mulai menulis skenario adalah dari datangnya tawaran untuk menjadi asisten penulis skenario. Sebenarnya memang sesimpel itu. dari situ saya mulai belajar banyak mengenai penulisan skenario. Sampai sekarang pun, saya masih belajar banyak dalam hal penulisan skenario dan bagaimana cara menulis skenario yang baik.
Banyak dari Pembuat Film tidak Mempunyai Argumen yang Kuat
Mengawali karier sebagai penulis, periset materi visual, dan penata
artistik film kemudian memilih menjadi sutradara film. Meraih
penghargaan Best Art Director di Festival Film Kine Klub (“Daun di Atas
Bantal”, karya Garin Nugroho), memperoleh Best Film dan Best Picture
dari film “Gerabah Plastik” di Festival Film Dokumenter (FFD) 2002,
meraih penghargaan Excellence Award dari film “Tanah Impian” di 12th
Erath Vision International Film Festival 2003 Tokyo, meraih Best Short
Asia Film dari film “Renita Renita” di 9th Cinemanila International
Film Festival 2007 di Philipina. Hingga saat ini menjadi fasilitator
workshop untuk produksi film pendek dan film dokumenter di banyak
tempat. Berikut percakapan Ma’ruf dengan Tony Trimarsanto.
1. Bisa diceritakan kapan mas Tony menekuni dunia film dokumenter?
Sebenarnya berkenalan dengan film dokumenter tidak sengaja. Lantaran
lebih banyak mengerjakan film dokumenter, ya akhirnya hidup di sini.
Dan mungkin ini juga sesuai dengan diri saya. Agak sulit bagi saya
untuk membuat film-film fiksi. Fiksi bagi saya adalah dunia yang memang
sulit untuk dijangkau. Saya tidak biasa untuk membuat adegan. Atau,
memang saya tidak bisa.
Audiens Bukan Ukuran Sukses
”Wawancara Krisnadi Yuliawan dangan Philip Cheah
Dua tahun berturut-turut Philip Cheah menjadi kurator di Jogjakarta Asian Film Festival (JAFF). Selain memilih film-film terbaik Asia untuk JAFF, Direktur Festival dari Singapore International Film Festival ini juga telah bertahun-tahun mengamati pertumbuhan generasi baru sineas Indonesia. Baginya, sinema Asia, termasuk Indonesia mengalami perkembangan yang luarbiasa sepuluh tahun belakangan ini.
Di Yogya, Krisnadi Yuliawan sempat berbincang dengan Phillip Cheah ditengah-tengah kesibukannya. Berikut petikan percakapan RumahFilm dengan Board Member of NETPAC (Network for the promotion of Asian Cinema) ini:
Hanya Sutradara Film Iklan Saja yang Memikirkan Penontonnya
Hanya Sutradara Film Iklan Saja yang Memikirkan Penontonnya
oleh Asmayani KusriniRedaktur Rumahfilm.org, Brussel 06/24/2008 09:57:31
Walaupun saya mulai menonton film sejak jaman Ira Maya Sopha jadi Cinderella, toh saya baru ‘melek film’ dua-tiga tahun terakhir ini. ‘Melek’ film artinya sekarang saya tidak lagi bingung ketika ditanya, Willy Dozan itu aktor laga dari Hongkong atau Magelang. Sekarang saya tidak lagi bisa ‘dikibuli’ ayah saya --yang penggemar film silat-- bahwa Bruce Lee itu kakak tertua Stephen Chow, dan Jet Li itu adik bungsunya, dan Andy Lau itu sepupu mereka.
Meskipun begitu, toh, kecenderungan ‘menyamaratakan’ masih belum bisa lepas juga. Dan Béla Tarr adalah salah satu ‘korban’ penyamarataan itu. Dulu, bagi saya, semua film hitam putih itu adalah film klasik. Dan semua sutradara film klasik, pada umumnya sudah wafat. Berkali-kali saya menganggap, bahwa Béla Tarr sudah berstatus almarhum gara-gara anggapan naïf ini. Saya memang teledor dan sudah berkesempatan untuk minta maaf langsung.