Belum terlihat kesibukan yang berarti di ruangan itu, sedangkan perhelatan tahunan mereka tinggal hitungan hari. Festival Film Pendek Konfiden 2008 (FFPK 2008) yang akan diselenggarakan oleh Yayasan Konfiden tahun ini adalah yang ketigakalinya semenjak berubah nama dari Festival Film Video Independen Indonesia (FFVII) yang terakhir kali muncul pada tahun 2002. Tanggal 9 – 13 November nanti adalah waktu yang ditunggu, setidaknya bagi para penggemar dan pemerhati film pendek di Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa FFPK masih menjadi program acuan bagi perkembangan film pendek Indonesia. Tapi mengecilkan arti acara lain yang serupa, FFPK rupanya masih menjadi acuan terpenting dari dunia film pendek Indonesia. Setidaknya konsistensi yang mereka tunjukan melalui program-program yang disajikan selama festival dapat membuktikan hal tersebut.
Voice Of Palestina (VOP), Sabtu (7/2) memberikan anugrah kepada sejumlah negara dan tokoh masyarakat Indonesia karena dinilai berani membela hak-hak dan perjuangan bangsa Palestina. Selain kepada negara Iran dan Syria, anugrah itu juga diberikan kepada DPR yang diwakili langsung oleh ketua DPR Agung Laksono dan Ketua MER-C, Jose Rizal, dan wartawan TV One.
Jumat penuh berkah, usai shalat jumat, 22 januari 2010, di belakang masjid UIN Syarif Hidaytullah, Ciputat di gelar pesta kemenangan palestina, VIVA PALESTINA. Di komandoi PIRAMIDA, sebuah komunitas study UIN, bekerjasama dengan VOP, membuat acara VIVA PALESTINA begitu menyayat. Acara di buka dengan seni tabuh anti penindasan oleh komunitas seni PIRAMIDA, di warnai dengan gegap gempIta bendera berkibar-kibar di gerakkan anak-anak TPA. Dilanjutkan dengan persembahan satu buah lagu, khusus dibuat untuk Palestina, oleh band cadas, LONG DISTANCE.
Skenario yang baik adalah skenario yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik
Wednesday, 02 September 2009
Beberapa bulan silam saya kenal seorang asisten penulis skenario, Luvie. Beberapa karyanya telah tayang untuk sinetron di TV Swasta;cinderella, mimpi manis, ratapan anak tiri, bawang putih bawang merah, azizah, dll.. Setelah beberapa kali berdiskusi tentang film, akhirnya saya bisa menimba ilmu dari dia, inilah kutipan diskusi kita.
1. Sudah berapa lama ibu menekuni dunia penulisan skenario, gimana ceritanya?
sudah sekitar 3 tahun..awal mulanya saya mulai menulis skenario adalah dari datangnya tawaran untuk menjadi asisten penulis skenario. Sebenarnya memang sesimpel itu. dari situ saya mulai belajar banyak mengenai penulisan skenario. Sampai sekarang pun, saya masih belajar banyak dalam hal penulisan skenario dan bagaimana cara menulis skenario yang baik.
Banyak dari Pembuat Film tidak Mempunyai Argumen yang Kuat
Wednesday, 15 April 2009
Mengawali karier sebagai penulis, periset materi visual, dan penata
artistik film kemudian memilih menjadi sutradara film. Meraih
penghargaan Best Art Director di Festival Film Kine Klub (“Daun di Atas
Bantal”, karya Garin Nugroho), memperoleh Best Film dan Best Picture
dari film “Gerabah Plastik” di Festival Film Dokumenter (FFD) 2002,
meraih penghargaan Excellence Award dari film “Tanah Impian” di 12th
Erath Vision International Film Festival 2003 Tokyo, meraih Best Short
Asia Film dari film “Renita Renita” di 9th Cinemanila International
Film Festival 2007 di Philipina. Hingga saat ini menjadi fasilitator
workshop untuk produksi film pendek dan film dokumenter di banyak
tempat. Berikut percakapan Ma’ruf dengan Tony Trimarsanto.
1. Bisa diceritakan kapan mas Tony menekuni dunia film dokumenter?
Sebenarnya berkenalan dengan film dokumenter tidak sengaja. Lantaran
lebih banyak mengerjakan film dokumenter, ya akhirnya hidup di sini.
Dan mungkin ini juga sesuai dengan diri saya. Agak sulit bagi saya
untuk membuat film-film fiksi. Fiksi bagi saya adalah dunia yang memang
sulit untuk dijangkau. Saya tidak biasa untuk membuat adegan. Atau,
memang saya tidak bisa.
Fa Isfansyah: Festival Itu Hanya Sebuah Perjalanan
Wednesday, 28 May 2008
Beberapa jam menjelang Semifinal Leg I Liga Champions 2007-2008 antara Manchester United vs Barcelona, Bayu Kesawa Jati menemui & mewawancarai Ifa Isfansyah yang tengah berada di Korea via YM.
Kepada Bayu, selain membeberkan pandangannya tentang kualitas dan apresiasi film pendek Indonesia, Ifa juga membuka tiga hal hasil evaluasinya terhadap proses yang ia lalui sebagai sutradara selama ini, termasuk soal beberapa produser yang menawarinya untuk masuk dalam ‘selera pasar’. Yang tak kalah mengejutkan, meski Ifa mengaku sedemikian respek terhadap Edwin, namun Ifa tetap menyebut bahwa Edwin tak bisa dipercaya!